Diabetes Harus Berhenti Merokok

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar ada fatwa tentang larangan merokok. Fatwa tersebut menimbulkan pro dan kontra di dalam kalangan masyarakat. Isi dari fatwa tersebut intinya tidak boleh merokok karena merokok itu haram hukumnya. Ya tentu saja hukum yang dimaksud adalah berdasarkan hukum islam, yang bersumber dari kitab suci Al Quran. Banyak kontra dari para lelaki atau bapak-bapak yang tentunya sudah terlanjur kecanduan dengan rokok. Dan banyak mendapat dukungan dari para wanita atau ibu-ibu yang merasa dirugikan karena suami mereka merokok, banyak dirugikan dari segi kesehatan maupun dari segi keuangan. Bagaimana tidak para istri merasa dirugikan dengan adanya suami mereka merokok, bayangkan saja jika suami mereka sehari menghabiskan minimal 1 bungkus rokok setiap hari, misal harga 1 bungkus rokok Rp 20.000 di kali 30 hari, maka uang sebanyak Rp 600.000 sudah mereka korbankan untuk dibakar alias buat merokok. Itu baru harga minimal dengan perumpamaan 1 bungkus sehari dan saya yakin sekali untuk perokok aktif yang sudah kecanduan pasti sehari bisa menghabiskan lebih dari 1 bungkus. Jika sehari menghabiskan 2 bungkus rokok, sekitar 1,2 juta uang melayang begitu saja untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Tinggal dihitung saja berapa juta rupiah melayang sia-sia kalau sehari 3 bungkus, 4 bungkus, dan seterusnya. Padahal uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau biaya sekolah anak yang lebih penting. 

Kalau dari segi kesehatan, menurut saya pribadi merokok juga tidak ada manfaatnya sama sekali, justru dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Tetapi kalau menurut mereka para perokok katanya merokok dapat menghilangkan stress, padahal sebenarnya banyak cara yang lebih sehat dan lebih hemat juga tentunya untuk menghilangkan stress. Setiap kali seseorang menghirup asap rokok, ada empat ribu bahan kimia yang ikut tersedot tubuh, termasuk 63 macam bahan kimia yang menimbulkan kanker (carcinogen), serta racun lain, seperti karbon monoksida, amonia, sianida, arsen, dan formaldehid. Jadi selain perokok aktif, perokok pasif pun bisa terkena dampaknya karena menghirup asap rokok yang dikelurkan oleh perokok aktif.

Sekitar dua tahun yang lalu saya baru menyadari kalau Bapak saya mengalami gejala penyakit diabetes. Setelah saya telusuri memang beliau ada keturunan diabetes dari garis keturunan bapaknya. Selain dari faktor resiko keturunan, gejala-gejala yang dialami Bapak saya sudah menjurus ke trias diabetes atau gejala klasik diabetes, yaitu polifagia, polidipsi, dan poliuria. Bapak saya jadi sering merasa lapar, haus, dan sering buang air kecil. Sejak 2 tahun terakhir ini juga badan semakin kurus, berat badan menurun drastis tanpa sebab yang jelas. Dan dari semua gejala-gejala tersebut sudah dipastikan diagnosisnya adalah Diabetes Melitus Tipe 2.

Bapak saya adalah seeorang perokok aktif, yaaa sampai sekarang masih menjadi perokok aktif. Perokok aktif yang sudah kecanduan berat nikotin seperti Bapak saya pasti punya sejuta alasan untuk tidak berhenti merokok. Pernah bahkan sering sekali saya menyuruh bapak saya untuk berhenti merokok dengan alasan kesehatan, tapi apa jawaban bapak saya? "Umur sudah ada yang mengatur, banyak juga kok yang meninggal muda padahal engga merokok, atau merokok tapi malah panjang umur sampai berpuluh-puluh tahun masih hidup." Yah begitulah susahnya menyuruh orang berhenti merokok, sama seperti pasien-pasien saya yang lain ketika dihadapan saya bilang iya mau berhenti merokok mungkin karena takut ataupun segan sama dokternya tetapi dibelakang, istrinya ngadu ke saya kalau suaminya masih merokok. Untuk para perokok baik yang masih muda maupun sudah tua ni ya tolong dipikirkan baik-baik, memang iya umur sudah ada yang mengatur tapi apakah Anda mau sisa umur Anda dihabiskan dengan menderita penyakit tertentu yang disebabkan oleh rokok? Pasti jawabannya tidak mau kan. 

Walaupun sudah tau terkena diabetes sampai sekarang bapak saya belum mau berhenti merokok, tetapi beliau sudah lebih penurut kepada saya, contohnya dulu sama sekali tidak mau periksa ke dokter spesialis entah mungkin karena malas pergi kesana atau belum siap menerima kenyataan diagnosis penyakitnya atau mungkin yang lebih berat belum siap untuk berhenti merokok karena pasti dokter manapun akan menyuruhnya untuk segera berhenti merokok, tetapi sekarang beliau sudah mulai menurut untuk melakukan apa yang saya perintahkan seperti mau dicek darahnya setiap hari dibawah pengawasan saya. Dan untuk bisa berhenti merokok masih proses, pelan-pelan saya selalu sounding untuk berhenti merokok segera. Mungkin bapak saya ataupun pembaca disini masih bingung kenapa orang yang menderita diabetes harus berhenti merokok? Memang apa hubungannya, bukankah merokok hanya berhubungan dengan paru-paru saja? Ternyata kebiasaan merokok membuat orang lebih mudah terkena diabetes karena merokok satu batang saja bisa membuat penggunaan insulin oleh tubuh Anda berkurang 15 persen. Setelah merokok satu batang itu berhenti 10-12 jam, barulah kinerja insulin bisa pulih seperti semula. Apabila keadaan yang seperti itu berlangsung terus menerus maka Anda akan menjadi diabetesi dengan ancaman mengalami berbagai komplikasi diabetes yang menakutkan. Kalau sudah tahu merokok tidak ada manfaatnya sama sekali bahkan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, masih tidak setujukah Anda dengan fatwa merokok itu haram? Jadi tunggu apalagi, segeralah berhenti merokok. Sayangilah diri Anda sendiri dan keluarga dengan cara berhenti merokok sekarang juga.

No comments:

Post a Comment

Gejala Orang Yang Terkena Diabetes

Banyak orang yang tidak menyadari mereka mengidap diabetes karena setiap orang memiliki kepekaan yang berbeda-beda. Terkadang mereka sampai...