Cara Memilih Kortikosteroid Topikal Yang Tepat Pada Penyakit Kulit

Kortikosteroid merupakan derivat hormon kortikosteroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memainkan peran penting termasuk mengontrol respons inflamasi. Kortikosteroid hormonal dapat digolongkan menjadi glukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan glukokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap penyimpanan glikogen hepar dan khasiat antiinflamasinya nyata. Prototip golongan ini adalah kortisol dan kortison, yang merupakan glukokortikoid alami. Terdapat juga glukokortikoid sintetik, misalnya prednisolon, triamsinolon, dan betametason. Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yang mempunyai aktivitas utama menahan garam dan terhadap keseimbangan air dan elektrolit. Pada manusia, mineralokortikoid yang terpenting adalah aldosteron. Umumnya golongan ini tidak mempunyai efek antiinflamasi yang berarti, sehingga jarang digunakan.

Berdasarkan cara penggunaannya, kortikosteroid dapat dibagi dua, yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Kortikosteroid topikal bermanfaat membantu meredakan rasa gatal yang disebabkan oleh alergi pada kulit dan mukosa. Kortikosteroid sebaiknya digunakan sesedikit mungkin dan hanya terbatas pada area yang mengalami inflamasi saja. Kortikosteroid topikal adalah salah satu obat yang sering diresepkan dan digunakan untuk pasien dermatologi. Sayangnya, kortikosteroid topikal sering kali digunakan secara tidak tepat baik oleh dokter, farmasi, toko obat, ahli kecantikan ataupun pasien karena keampuhannya menghilangkan gejala dan tanda berbagai penyakit kulit. Hal tersebut tidak jarang menimbulkan masalah efek samping. Secara farmakologik penulisan resep kortikosteroid topikal harus rasional, terutama bila dikombinasikan / dicampur dengan obat lain, serta selalu mempertimbangkan efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk keberhasilan pengobatan dengan kortikosteroid topikal, beberapa faktor kunci yang harus dipertimbangkan adalah diagnosis yang akurat, memilih obat yang benar, mengingat potensi, jenis sediaan, frekuensi penggunaan obat, durasi pengobatan, efek samping, dan profil pasien yang tepat. Efektivitas kortikosteroid topikal bergantung pada potensi / kekuatan, vehikulum, frekuensi pengolesan, jumlah/banyaknya, dan lama pemakaian. Selain diagnosis yang tepat, stadium penyakit, lokasi anatomi, dan faktor usia, kepatuhan pasien juga ikut mempengaruhi keberhasilan terapi.

Indikasi Kortikosteroid Topikal
Kortikosteroid topikal mempunyai kemampuan menekan inflamasi/peradangan dengan cara menghambat fosfolipase A dan menekan IL-1α. Sebagai obat imunosupresan, kortikosteroid dapat menghambat kemotaksis neutrofil, menurunkan jumlah sel Langerhans dan menekan pengeluaran sitokin, menekan reaksi alergi-imunologi, serta menekan proliferasi/antimitotik. Kortikosteroid topikal juga menyebabkan vasokonstriksi dan efek ini sejalan dengan daya antiinflamasi.

Beberapa jenis penyakit kulit yang responsif terhadap kortikosteroid adalah Alopecia areata, Atopic dermatitis (resistant), Discoid lupus, Hyperkeratotic eczema, Lichen planus, Lichen sclerosus (skin), Lichen simplex chronicus, Nummular eczema, Psoriasis, Severe hand eczema, Asteatotic eczema, Atopic dermatitis, Lichen sclerosus (vulva), Nummular eczema, Scabies (after scabicide), Seborrheic dermatitis, Severe dermatitis, Severe intertrigo (short-term), Statis dermatitis, Dermatitis (diaper), Dermatitis (eyelids), Dermatitis (face), Intertigo, Perianal inflammation.

Kekuatan Kortikosteroid Topikal
Kekuatan atau Potensi adalah jumlah obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek terapi yang diinginkan. Potensi/kekuatan kortikosteroid topikal dapat diukur dengan menghitung daya vasokonstriksi. Daya vasokonstriksi di kulit orang sehat menjadi dasar klasifikasi potensi. Efek terapi kortikosteroid topikal pada setiap pasien hasilnya bervariasi. Keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada kekuatan kortikosteroid topikal, tetapi juga dipengaruhi oleh frekuensi dan jumlah obat yang diaplikasikan, jangka waktu pemberian terapi, dan lokasi anatomi. Terdapat perbedaan hasil pengobatan kortikosteroid topikal walaupun formula generiknya sama atau di satu kelas yang sama. Setiap nama dagang tertentu menggunakan vehikulum yang berbeda. Bentuk lotion, krim, salep, ataupun gel memberikan hasil berbeda. Konsentrasi formula juga akan mempengaruhi potensi kortikosteroid topikal.

Kortikosteroid topikal potensi rendah adalah agen paling aman untuk penggunaan jangka panjang, pada area permukaan besar, pada wajah, atau pada daerah dengan kulit tipis dan untuk anak-anak. Kortikosteroid topikal yang lebih kuat sangat berguna untuk penyakit yang parah dan untuk kulit yang lebih tebal di telapak kaki dan telapak tangan. Kortikosteroid topikal potensi tinggi dan super poten tidak boleh digunakan di selangkangan, wajah, aksila dan di bawah oklusi, kecuali dalam situasi yang jarang dan untuk durasi pendek.

Kortikosteroid topikal diklasifikasikan menjadi tujuh kelas menurut sistem Amerika dengan kelas I merupakan super poten dan kelas VII menunjukkan potensi yang paling rendah. Menurut formularium nasional Inggris, Kortikosteroid topikal dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan potensinya.

Kategori
Kelas
Contoh
Amerika Serikat
Inggris
Super-Poten
1
1
Klobetasol propionate 0,05%
Betamethason dipropionat 0,05% dalam vehikulum teroptimisasi
Potensi Tinggi
2-3
2
Betamethason dipropionat 0,05%
Betamethason valerat 0,1%
Desoksimetason 0,25%
Flutikason propionat 0,05%
Mometason furoat 0,1%
Potensi Sedang
4-5
3
Betamethason valerat 0,1%
Flutikason propionat 0,05%
Mometason furoat 0,1%
Prednikarbat 0,1%
Triamsinolon asetonid 0,1%
Potensi Rendah
6-7
4
Alklometason dipropionat 0, 05%
Desonid 0,05%
Hidrokortison 0,1%

Cara Mengoptimalkan Penggunaan Kortikosteroid
ü  Memilih Kortikosteroid yang tepat sesuai dengan indikasinya. Mulailah dengan yang potensi ringan, terutama untuk lesi di wajah, kelopak mata, intertriginosa, fleksural, skrotum, dan untuk area yang luas. Penggunaaan Kortikosteroid harus sesuai dengan potensinya untuk mencapai pengendalian penyakit dan pengobatan yang maksimal. Makin kuat potensi, makin kuat daya inflamasi, dan antiproliferasi.
ü  Setelah mencapai hasil yang memuaskan, turunkan potensi Kortikosteroid atau kurangi frekuensi aplikasi secara perlahan-lahan sampai pengobatan tuntas.
ü  Kortikosteroid poten atau sangat poten dengan teknik oklusi lebih bermanfaat pada lesi kronik ditandai hiperkeratosis dan likenifikasi.
ü  Hati-hati penggunaan Kortikosteroid, terutama pada anak, orang tua, wanita hamil dan menyusui.
ü  Segera hentikan pemakaian kortikosteroid jika terjadi efek samping.
ü  Hindari menggunakan preparat kombinasi Kortikosteroid dengan antimikroba dan antijamur bila tidak ada indikasi dari dokter.
ü  Menghindari penggunaan Kortikosteroid untuk ruam yang tidak terdiagnosis karena akan mengaburkan diagnosis.

No comments:

Post a Comment

Gejala Orang Yang Terkena Diabetes

Banyak orang yang tidak menyadari mereka mengidap diabetes karena setiap orang memiliki kepekaan yang berbeda-beda. Terkadang mereka sampai...